Kerajaan Islam Samudra Pasai


Kami dari kelompok 1 X IPS A - SMAN 55 JAKARTA ingin memberikan informasi tentang kerajaan samudra pasai, selamat membaca!


Sejarah Kerajaan Samudra Pasai

Pada tahun 1511 M, Malaka sebagai pelabuhan terbesar di Asia jatuh ke tangan Portugis. Hal ini berdampak pada jalur lalu lintas perdagangan dan pelayaran.Karena itu pusat perdagangan dipindah ke Aceh.Mulai saat itu, Aceh menjadi sangat ramai dan berkembang bahkan dapat mengambil alih dominasi pelayaran dan perdagangan dari Samudra Pasai yang kalah bersaing. Aceh dan Samudera Pasai menjadi Kerajaan pertama dan tertua yang bercorak islam.

Kemunculan kerajaan ini diperkirakan berdiri mulai awal atau pertengahan abad ke-13 M sebagai hasil dari proses Islamisasi daerah-daerah pantai yang pernah disinggahi pedagang-pedagang muslim sejak abad ke-7, ke-8, dan seterusnya. Kerajaan ini terletak di pesisir Timur Laut Aceh. Kerajaan Samudra Pasai merupakan gabungan dari kerajaan Pase dan Peurlak.

 

A. Kerajaan Samudra Pasai terletak di Aceh, letak geografis kerajaan samudra pasai terletak di daerah Lhok Semawe Pantai Timur Pulau Sumatra bagian utara berdekatan dengan jalur pelayaran internasional (selat malaka).

etak Kerajaan Samudra Pasai secara jelas: 



B. Sebuah kerajaan tidak mungkin berdiri tanpa adanya seorang pendiri dan raja raja yang berkuasa, berikut nama raja yang berkuasa:

Kerajaan Samudra Pasai merupakan kerajaan islam pertama di Indonesia yang didirikan oleh Meurah Silu pada 1267M. Setelah masuk islam, Meurah silu berganti nama menjadi Malik Al Saleh. Beliau bergelar Sultan Malik Al Saleh.

Berdasarkan Hikayat Raja-Raja Pasai, berikut adalah silsilah raja-raja yang memerintah Kerajaan Samudera Pasai:

  1. Sultan Malik as-Saleh (1267-1297 M)
  2. Sultan Muhammad Malikul Zahir (1297-1326 M)
  3. Sultan Mahmud Malik Az-Zahir (1326-1345 M)
  4. Sultan Malik Az-Zahir (?- 1346 M)
  5. Sultan Ahmad Malik Az-Zahir (1346-1383 M)
  6. Sultan Zain Al-Abidin Malik Az-Zahir (1383-1405 M)
  7. Sultanah Nahrasiyah (1405-1412 M)
  8. Sultan Sallah Ad-Din (ca.1402-? M)
  9. Sultan Abu Zaid Malik Az-Zahir (?-1455)
  10. Sultan Mahmud Malik Az-Zahir (.1455-1477 M)
  11. Sultan Zain Al-‘Abidin (1477-1500 M)
  12. Sultan Abdullah Malik Az-Zahir (1501-1513 M)
  13. Sultan Zain Al Abidin (1513-1524 M)

C. Masa awal berdiri, Masa perkembangan, dan Masa kejayaan

Kerajaan Samudera Pasai berdiri lebih awal dibandingkan Dinasti Utsmani di Turki, kira-kira pada 1297 M. Kerajaan Samudera Pasai muncul sekitar pertengahan abad ke-13 dengan Sultan Malik Al-Saleh sebagai raja pertamanya. Pada awalnya, kerajaan ini adalah kelanjutan dari kerajaan-kerajaan pra-Islam yang sudah ada sebelumnya. Nazimuddin Al-Kamil adalah laksamana laut dari Dinasti Fatimiyah di Mesir yang berhasil menaklukkan kerajaan Hindu-Buddha di Aceh dan mendirikan kerajaan di Pasai. 

Setelah Nazimuddin Al-Kamil wafat dan Pasai dikuasai oleh Laksamana Johan Jani dari Pulau We, Dinasti Mamaluk yang menggantikan Dinasti Fatimiyah berniat untuk merebut kerajaan pendahulunya. Mereka kemudian mengutus pendakwah bernama Syaikh Ismail dan Fakir Muhammad yang sebelumnya berdakwah di Pantai Barat India untuk ke Pasai. Di Pasai, dua pendakwah tersebut bertemu dengan Marah Silu, salah satu anggota angkatan perang Kerajaan Pasai. Syaikh Ismail dan Fakir Muhammad berhasil membujuk Marah Silu untuk memeluk Islam dan mendirikan Kerajaan Samudera, demi menandingi Pasai. 

Akhirnya Marah Silu masuk Islam dengan gelar Sultan Malik Al-Saleh dan menjadi raja pertama Kerajaan Samudera. Kerajaan Samudera terletak di kiri dari Sungai Pasai, menghadap ke arah Selat Malaka. Sultan Malik Al-Saleh kemudian menikah dengan putri Ganggang Sari, keturunan Sultan Aladdin Muhammad Amin dari Kerajaan Perlak. Sejak saat itulah dua kerajaan Islam ini bergabung menjadi Kerajaan Samudera Pasai. Nama Samudera Pasai sebenarnya adalah "Samudera Aca Pasai" yang berarti Kerajaan Samudera yang baik dengan ibu kota di Pasai. Sultan Malik Al-Saleh berusaha meletakkan dasar-dasar kekuasaan Islam dan mengembangkan kerajaannya melalui perdagangan. Setelah Malik Al-Saleh wafat, takhta kerajaan digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Muhammad atau Malik Al Tahir (1297-1326 M).

Kerajaan ini mencapai masa kejayaannya pada masa pemerintahan sultan ketiga, Sultan Mahmud Malik Az ZahirPada masa kepemimpinannya, kerajaan ini menjalin hubungan yang erat dengan kerajaan-kerajaan Islam di India dan Semenanjung Arab. Rempah-rempah seperti lada menjadi salah satu komoditas yang diperdagangkan Samudera Pasai dengan kerajaan-kerajaan ini. Bahkan, kerajaan Islam ini mengeluarkan bentuk alat tukar berupa koin emas (dirham) dengan komposisi emas murni 70 persen.

Lokasi Kerajaan Samudera Pasai sangat strategis untuk perdagangan, yaitu tepat di selat Malaka. Sehingga, kapal-kapal perdagangan di seluruh dunia sering mampir ke kerajaan ini. Kapal-kapal dari Cina, India, Siam, Arab, dan Persia sering berkunjung dan bahkan menetap di Samudera Pasai. Selain kapal-kapal perdagangan, kerajaan ini juga dikunjungi para penjelajah maupun orang-orang yang ingin belajar agama Islam. Dua penjelajah terkenal dunia, Marcopolo dan Ibnu Batutah, bahkan pernah mampir ke kerajaan ini. 


           Koin emas yang dikeluarkan sebagai alat pembayaran di kerajaan Samudera Pasai



D. Faktor pendorong kemajuan 
 
1. Letaknya yang strategis di Selat Malaka yang banyak disinggahi para pedagang. 
2. Sebagai pelabuhan transito berfungsi sebagai gudang perbekalan bagi kapal-kapal yang ingin mengisi kembali perbekalannya.
3. Persebaran Islam sehingga banyak saudagar Muslim dari India, Persia dan Arab yang berlabuh.
4. Membina hubungan erat dengan India dan Cina

E. Sebab masa keruntuhan 


Faktor Internal :

  • Pemimpin yang kurang cakap setelah Sultan Malik Al Tahir. Sultan Malik Al Tahir adalah pembawa kejayaan Kerajaan Samudera Pasai. Sepeninggal Sultan Malik Al Tahir, kerajaan berpindah pada penerusnya. Namun, karena kinerja yang kurang cakap, Kerajaan Samudera Pasai terus mengalami kemunduran.
  • Terjadinya perebutan kekuasaan. Perebutan kekuasaan dan pemberontakan yang terjadi pada zaman pemerintahan Sultan Zainal Abidin membuat kekuatan kerajaan ini melemah. Pemberontakan ini sempat ditulis di dalam berita-berita Cina sumber sejarah kerajaan ini.

Faktor Eksternal :

  • Penyerangan dari Kerajaan Majapahit. Kerajaan Majapahit menyerang Kesultanan Samudra Pasai karena Putri dari Kerajaan Majapahit bunuh diri karena gagal menikah dengan Putra Mahkota Kesultanan Samudera Pasai. Penyerangan ini terjadi sekitar tahun 1350 M. Serangan dari Majapahit ini merupakan awal dari keruntuhan Samudera Pasai.
  • Kalah saing dengan Pelabuhan Malaka. Setelah Malaka muncul sebagai pusat perdagangan yang baru pada awal abad ke-15. Semenjak pusat perdagangan beralih ke Selat Malaka, Pelabuhan Pasai mulai sepi dan mengalami kerugian, karena komoditas utamanya yaitu lada batal untuk dikirim.
  • Ketika suatu pusat politik baru dibangun oleh Sultan Ali Mughayat Syah (Kesultanan Aceh) pada awal abad ke 16 di Banda Aceh Darussalam, Samudera Pasai ditaklukkan dan dijadikan sebagai daerah kekuasaan baru.
F. Warisan kerajaan

  1. Dirham

Zaman dulu Dirham tidak memakai kertas, maka dari itu dirham-dirham yang ada di Kerajaan Samudera Pasai dibuat dari 70% emas murni 18 karat tanpa campuran kimia kertas,berdiameter 10 mm dengan 0,6 gram setiap koinnya.

Dirham

  1. Cakra Donya

Cakra Donya merupakan sebuah lonceng yang bisa dibilang keramat. Cakra Donya ini merupakan lonceng yang berupa mahkota besi berbentuk stupa buatan Cina tahun 1409 M. Lonceng ini memilik tinggi 125 cm dan lebar 75 cm. Cakra sendiri memiliki arti poros kereta, lambang-lambang Wishnu, matahari atau cakrawala.Sementara Donya berarti dunia.

Cakra Donya

  1. Naskah Surat Sultan Zainal Abidin

Naskah surat Sultan Zainal Abidin merupakan surat yang ditulis oleh Sultan Zainal Abidin sebelum meninggal pada tahun 1518 Masehi atau 923 Hijriah. Surat ini ditujukan kepada Kapitan Moran yang bertindak atas nama wakil Raja Portugis di India.

Naskah Surat Sultan Zainal Abidin

  1. Stempel Kerajaan

Stempel ini diduga milik Sultan Muhamad Malikul Zahir yang merupakan Sultan Kedua Kerajaan Samudera Pasai. Dugaan tersebut dilontarkan oleh oleh tim peneliti sejarah kerajaan Islam. Stempel ini ditemukan di Desa Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara.

Stempel Kerajaan

  1. Nisan Sultan Malik As-Shalih

Nisan Sultan Malik As-Shalih

Sepasang nisan Sultan Malik As-Shalih berbentuk segi empat pipih bersayap dengan bagian punck berupa mahkota bersusun dua. Pada nisan ini terdapat masing-masing tiga panil disisi depan dan belakang yang berpahatkan kaligrafi Arab. 

  1. Nisan Sultanah Nahrasiyah

Nisan Sultanah Nahrasiyah

Makam Ratu Nahrasiyah terletak di Desa Meunasah Kuta Krueng, Kecamatan Samudera. Pada makam ratu ini juga memuat silsilah raja-raja Samudera Pasai. Makam beliau merupakan makam muslim terindah di Asia Tenggara. Makam sultanah Nahrasiyah memiliki jirat yang tinggi bersatu dengan bagian nisan, keseluruhan nya terbuat dari pualam yang langsung didatangkan dari gujara

  1. Makam Sultan Muhammad Malik Al- Zahir

Makam Sultan Muhammad Malik Al- Zahir

Malik Al-Zahir adalah putera dari Malik Al- Saleh yang memimpin Kesultanan Samudera Pasai pada tahun 1287 sampai 1326M. letak makamnya bersebelahan dengan makam ayahnya Malik Al-Saleh.

  1. Makam Teungku Sidi Abdullah Tajul Nillah

Makam ini merupakan peninggalan dari Dinasti Abbasiyah dan beliau merupakan cicit dari khalifah Al-Muntasir. Teungku Sidi mamangku jabatan Menteri Keuangan di samudra pasai. Makam terletak di Gampong Kuta Krueng, batu nisannya terbuat dari marmer dihiasi kaligrafi.

  1. Makam Teungku Peuet Ploh Peuet

Di komplek terdapat makam 44 orang ulama dari Kesultanan Samudera Pasai yang dibunuh karena mengharamkan pernikahan raja dengan putri kandungnya. Makam ini terletak di Gampong Beuringen Kec Samudera. Pada nisan tersebut juga bertuliskan kaligrafi surat Ali Imran ayat 18.

  1. Makam Ratu Al-Aqla (Nur Ilah)

Adalah puteri Sultan Muhammad Malikul Dhahir, Makam ini terletak di Gampong Meunje Tujoh Keca Matangkuli. Batu nisannya berhiasakan kaligrafi berbahasa Kawi dan Arab.


G. Kehidupan politik, ekonomi, sosial budaya di Samudra Pasai 


H. Sumber sejarah kerajaan Samudra Pasai

1. Hikayat Raja-Raja Pasai

Hikayat ini merupakan sebuah karya yang ditulis dengan menggunakan bahasa Melayu. Isinya bercerita mengenai kerajaan Islam pertama di Nusantara yang terletak di Aceh, yaitu Samudra pasai.

Berdasarkan hikayat ini, dapat kita ketahui pendiri kerajaan Samudra Pasai, yaitu Sultan Malik As Saleh atau nama aslinya Marah Silu. Sebagian besar isi hikayat ini penuh dengan mitos dan legenda, tapi hikayat ini telah membantu dalam mengungkap kebenaran kerajaan Samudra Pasai.

2. Kitab Rihlah ila I-Masyriq

Sumber sejarah kerajaan Samudra Pasai selanjutnya adalah sebuah kitab karya Abu Abdullah Ibn Batutah. Ia merupakan musafir Maroko yang melakukan pengembaraan ke timur hingga singgah ke wilayah Samudra Pasai pada tahun 1345.

Dalam kunjungannya ke Samudra Pasai, saat itu kesultanan dipimpin oleh Sultan Al-Malik Azh-Zhahir II atau pada periode 133? hingga 1349 masehi. Ibnu Batutah sendiri pernah berkeliling ke pelosok dunia pada Abad Pertengahan. 

Menurut Ibnu Batutah, Samudra Pasai adalah pusat studi Islam. Saat berkunjung di kerajaan ini, ia dijemput oleh laksamana muda dari Pasai yaitu bernama Bohuz. Ia pun selanjutnya diundang ke istana. Setelah singgah di Samudra Pasai, ia kemudian melanjutkan perjalanan ke China.

3. Kronik China
Di dalam kronik China, Samudra Pasai dikenal dengan nama Tsai-nu-li-a-pi-ting-ki. Disebutkan bahwa armada kapal Cheng Ho dengan sekitar 200an kapal mengunjungi Samudra Pasai secara berturut-turut pada tahun 1405, 1408 dan 1412. 

Dalam catatan tersebut, dijelaskan bahwa jarak tempuh menuju Samudra Pasai sekitar 3 hari 3 malam. Pada kunjungannya tersebut, Cheng Ho memberikan hadiah dari Kaisar China yaitu berupa Lonceng Cakra Donya.

Kemudian pada tahun 1434 Sultan Pasai mengirim saudaranya bernama Ha-li-zhi-han, namun ia wafat di Beijing. Selanjutnya Kaisar Xuande (Dinasti Ming) mengutus utusannya bernama Wang Hinhong untuk mengabarkan berita tersebut ke Samudra Pasai.

4. Lonceng Cakra Donya

Keberadaan lonceng pemberian kaisar China masih ada hingga sekarang dan menjadi bukti serta sumber sejarah kerajaan Samudra Pasai. Lonceng ini berbentuk stupa, memiliki tinggi 125 cm, lebar 75 cm. Di bagian luar lonceng terdapat hiasan-hiasan kombinasi aksara China dan Arab.

5. Naskah Surat Sultan Zainal Abidin

Sumber sejarah kerajaan Samudra Pasai selanjutnya berupa naskah surat yang ditulis oleh Sultan Zainal Abidin, tepatnya pada tahun 1518 masehi. Surat ini ditujukan kepada Kapitan Moran. 

6. Stempel Kerajaan Samudra Pasai

Berdasarkan hasil penelitian oleh Tim peneliti sejarah kerajaan Islam. Ditemukan bukti bahwasanya stempel ini merupakan milik Sultan Muhammad Malikul Zhair. Stempel ini ditemukan di Desa Kuta Krueng, Kecamatan Samudra, Kab. Aceh Utara. Namun saat ditemukan, dibagian gagang stempel sudah rusak.

7. Makam Sultan Maslik Al Shaleh

Lokasi makam ini berada di Desa Beuringin, Kecamatan Samudra. Jaraknya kurang lebih 17 km di sebelah timur kota Lhokseumawe.


8. Makam Sultan Muhammad Malik Al Zahir

Makam ini lokasinya bersebelahan dengan makam Sultan Malik Al Shaleh. Hal ini karena beliau merupakan putranya yang juga pernah memimpin Kesultanan Samudra Pasai, tepatnya dari tahun 1287 hingga 1326 masehi.

9. Makam Teungku Sidi Abdullah Tahul Nillah

Beliau merupakan salah satu pejabat di Kesultanan Samudra Pasai. Ia adalah cicit dari khalifah Al Muntasir. Ia pernah menjabat sebagai menteri keuangan di kesultanan Samudra Pasai. Lokasi makam ini berada di Gamping Kuta Krueng. Makam ini memiliki hiasan kaligrafi, sementara batu nisannya terbuat dari marmer.



Terima kasih semua, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat, 
Sekian materi dari kelompok kami!!

Anggota : 
1. Adzraa rizki 
2. Ahmad ramdhani
3. Alief zain al wahid
4. Aryo mustafa
















Komentar

  1. Wah jadi punya lebih banyan wawasan bangettt 😱😱😱🥰🥰

    BalasHapus

Posting Komentar